Senin, 24 Januari 2011

Mengeluh, Peternak Sapi Perah di Lereng Merapi

Setelah kembali dari pengungsian, warga di sekitar lereng Merapi kini mengeluhkan mata pencaharian mereka. Para peternak sapi perah misalnya, mengeluh kekurangan air minum untuk sapi.

Sokimun, Kepala Dusun Boyong, Hargobinangun, Cangkringan, sekaligus Ketua Usaha Peternakan dan Pemerahan (UPP) Ternak Kaliurang, Sleman, Yogyakarta, menyatakan setelah kembali dari tempat pengungsian ke rumah masing-masing, peternak banyak mengalami persoalan tentang ternak. Salah satunya air.

Biasanya, UPP Ternak Kaliurang menghabiskan 6.000 liter per hari sebelum erupsi Merapi. Sementara sekarang hanya terdapat 900 liter per hari.

Sarijani, Kepala Dusun Ngipiksari mengatakan, sebagai peternak bingung dan kerepotan mengurus sapi. "Setelah pulang dari pengungsian, kami kekurangan air dalam memenuhi kebutuhan sapi perah," katanya kepada VIVAnews, Selasa 25 Januari 2011.

"Kami berharap ada bantuan air bersih untuk kebutuhan minum dan untuk ternak. Saat ini kami buat talang air hujan yang ditampung guna memberi minum sapi. Biasanya kalau tidak ada air kita terpaksa membeli air. Satu tangki yang berisi 4.000 liter, seharga 100 ribu rupiah. Untuk sapi hanya cukup untuk seminggu," katanya.

Menurut Sarijani, kalau sapi kekurangan air akan bisa mengakibatkan sapi ambruk atau terjatuh dan juga mengurangi produktivitas susunya. Dua puluh persen dari air yang dikonsumsi sapi tersebut akan jadi susu.

Sementara Ketua Koperasi Wargamulya, Danang Iskandar, sangat mengharapkan perhatian pemerintah soal ini. "Kami berharap perekonomian kami segera pulih, serta usaha ternak sapi perah kami juga," katanya. (sj)

Laporan Erick Tanjung | Sleman